Suarameratus, Jakarta – Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Rabu pagi (18/6/2025) waktu Asia, dipicu meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap konflik berkepanjangan antara Iran dan Israel yang berpotensi mengganggu pasokan minyak global.
Ketegangan yang belum mereda di kawasan Timur Tengah membuat pelaku pasar waspada, terutama terhadap pasokan minyak dari Iran, yang merupakan produsen terbesar ketiga dalam organisasi negara pengekspor minyak (OPEC) dengan produksi mencapai 3,3 juta barel per hari.
Situasi makin mengkhawatirkan setelah anggota parlemen Iran, Esmaeil Kowsari, menyampaikan ancaman untuk memblokir Selat Hormuz—jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen dari total ekspor minyak mentah dunia melalui laut.
Para analis menilai, setiap gangguan di Selat Hormuz dapat berdampak besar terhadap rantai pasokan energi global dan memicu lonjakan harga lebih lanjut.
Selain faktor geopolitik, pasar juga mencermati hasil pertemuan kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, yang berlangsung pada pekan ini. The Fed diperkirakan masih akan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 4,25 hingga 4,50 persen.
Namun, analis dari IG Markets, Tony Sycamore, menyebut bahwa ketegangan di Timur Tengah serta ancaman perlambatan ekonomi global bisa mendorong The Fed untuk lebih cepat melonggarkan kebijakan moneter.
“Situasi di Timur Tengah bisa menjadi katalis bagi The Fed untuk bersikap lebih dovish, seperti yang pernah terjadi usai serangan Hamas pada Oktober 2023,” ujarnya.
Secara umum, penurunan suku bunga akan mendongkrak pertumbuhan ekonomi dan konsumsi energi, termasuk minyak, yang pada akhirnya memberi tekanan naik terhadap harga komoditas tersebut.

