Suarameratus, Makassar – Kementerian Agama Sulawesi Selatan menyelesaikan seleksi Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK) tingkat provinsi 2025 melalui sistem Computer-Based Test (CBT) yang digelar secara serentak antara 17–19 Juni 2025. Tahap awal ini menjadi filter utama untuk menentukan santri terbaik yang akan mewakili Sulsel pada MQK Nasional di Kabupaten Wajo, Oktober mendatang .
Sebanyak 519 santri dari jenjang Ula, Wustha, Ulya, dan Ma’had Aly telah mengikuti seleksi CBT. Hanya tiga peserta per kategori dengan nilai tertinggi yang selanjutnya dipilih sebagai kandidat provinsi untuk melaju ke ajang nasional dan internasional .
Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Basnang Said, menyambut positif penggunaan sistem digital dalam seleksi ini. Menurutnya, CBT menjamin proses yang objektif, transparan, dan inklusif, serta memungkinkan akses merata bagi santri dari wilayah 3T. Ia menegaskan bahwa pemilihan peserta bukan berdasarkan nama besar pesantren, melainkan kapasitas individu yang nyata .
Data resmi menyebut bahwa tingkat partisipasi seleksi mencapai sekitar 95 persen dari 8.340 santri yang diundang — membuktikan antusiasme tinggi di kalangan pesantren seluruh Indonesia. Dari total itu, hanya 418 santri yang tidak mengikuti seleksi .
Selanjutnya, sepuluh besar peserta hasil CBT akan mengikuti seleksi lanjutan yang dilaksanakan oleh Kantor Wilayah dan Kankemenag untuk menetapkan utusan provinsi di setiap mata lomba. Proses ini diatur lewat surat Dirjen Pendidikan Islam nomor B‑104/Dt.IV/PP.00.7/06/2025 tertanggal 26 Juni 2025 .
Musabaqah Qiraatil Kutub Nasional ke‑VIII direncanakan berlangsung pada 1–6 Oktober 2025 di Pondok Pesantren As’adiyah, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. Sulsel juga menjadi tuan rumah MQK Internasional pertama yang berlangsung bersamaan sebagai bagian dari MQK nasional dan Asia Tenggara .
Panitia penyelenggara menargetkan MQK Internasional sebagai wadah diplomasi keagamaan yang mencakup peserta dari berbagai negara seperti Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, Jepang, Myanmar, hingga komunitas Indonesia di luar negeri seperti Jakarta Global Network .
Dengan semakin modernnya proses seleksi dan kesiapan tuan rumah di Sulsel, pelaksanaan MQK 2025 diharapkan menjadi momentum penting dalam penguatan tradisi pesantren, pengembangan kader ulama masa depan, dan promosi perdamaian berbasis kitab kuning.

