Suarameratus, Jakarta – Teheran kembali melontarkan ancaman serius di tengah eskalasi konflik dengan Israel. Iran mempertimbangkan untuk menutup Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran minyak terpenting di dunia, di tengah memanasnya ketegangan usai serangan udara Israel ke fasilitas nuklir Iran.
Ancaman itu disampaikan oleh anggota parlemen Iran, Esmaeil Kowsari, dalam wawancara dengan televisi pemerintah Press TV, akhir pekan lalu. Ia menyebut blokade Selat Hormuz menjadi opsi strategis yang kini tengah dikaji pemerintah Iran.
“Iran tengah mempertimbangkan untuk memblokade Selat Hormuz di Teluk Persia, yang dilalui lebih dari 17 juta barel minyak setiap hari,” ujar Kowsari, dikutip dari kantor berita Anadolu.
Pernyataan Kowsari muncul sehari setelah Israel meluncurkan serangan udara ke beberapa titik strategis di Iran, termasuk Teheran dan fasilitas nuklir di Natanz, Jumat (13/6). Serangan tersebut dilaporkan menewaskan sejumlah komandan tinggi militer dan ilmuwan nuklir Iran.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan ratusan rudal dan drone ke Tel Aviv serta wilayah pendudukan lainnya di Israel, memicu kekhawatiran akan pecahnya konflik berskala lebih luas.
Jika benar dilakukan, penutupan Selat Hormuz akan berdampak besar pada pasokan energi global. Jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia ke Laut Arab ini menjadi rute utama ekspor minyak dari negara-negara seperti Iran, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Kuwait. Selain itu, Qatar—eksportir gas alam terbesar dunia—juga sangat bergantung pada Selat Hormuz untuk pengiriman energinya.
Rencana Iran ini dikhawatirkan akan memperburuk ketegangan regional dan memicu reaksi dari negara-negara besar, termasuk Amerika Serikat, yang memiliki Armada Kelima di Bahrain—pangkalan militer terbesar AS di kawasan Timur Tengah.
Situasi ini menempatkan pasar energi global dalam posisi siaga tinggi, dengan potensi lonjakan harga minyak dan gangguan logistik yang signifikan jika Selat Hormuz benar-benar ditutup.

