Suarameratus, Kotabaru – Malam parade budaya Festival Budaya Saijaan (FBS) 2025 di Siring Laut Kotabaru berlangsung meriah dengan kejutan penampilan band asal Batulicin, Tanah Bumbu, Primitive Monkey Noose. Grup musik ini berhasil mengguncang panggung dan menyedot perhatian ribuan penonton yang memadati area acara, Sabtu (16/8) malam.
Band yang sudah berdiri sejak lima tahun lalu itu tampil membawakan tujuh lagu dengan kolaborasi unik antara musik tradisional panting dan irama punk rock modern. Hasilnya, suasana menjadi pecah, penonton berdesakan mendekati panggung, hingga ramai bergoyang bersama. Para pejabat, perwakilan kementerian, hingga warga yang hadir tampak terpukau oleh performa mereka.
Salah seorang penonton, Sari, mengaku senang bisa menyaksikan langsung aksi panggung Primitive Monkey Noose. “Intinya seru dan memukau. Kami sangat terhibur tadi malam. Semuanya personelnya ramah. Sukses terus buat Bang Richy dan tim, semoga bisa tampil lagi di Kotabaru,” ujarnya penuh antusias.
Vokalis sekaligus frontman band, Richy Petroza, menyampaikan rasa bangganya bisa kembali menghibur warga Kotabaru. Ia mengatakan, ini merupakan penampilan kedua mereka di Saijaan setelah sebelumnya tampil di destinasi wisata Puncak Mamake. Bahkan, band ini pernah tampil di salah satu acara di ibu kota Jakarta.
“Intinya kami ingin melestarikan musik khas Banua, yaitu panting, dengan mengkolaborasikannya bersama band punk rock. Harapan kami, generasi Kotabaru juga bisa semakin kreatif lewat musik, sehingga bisa membanggakan orang tua dan daerah,” kata Richy sebelum naik ke panggung.
Selain penampilan Primitive Monkey Noose, parade budaya tahun ini juga menampilkan sembilan etnis yang memukau. Mulai dari Bajau, Banjar, Dayak, Bugis, Tionghoa, Batak, Jawa, Bali, hingga Mandar. Setiap kelompok hadir dengan busana adat, musik tradisional, serta tarian khas yang menghibur ribuan warga yang hadir.

