Suarameratus, Tanah Bumbu – Perupa Robert Hendra Sulu membagikan kisah perjalanan hidupnya melalui karya-karya lukisan sepatu yang ia tampilkan sebagai simbol kesetiaan pada langkah dan pengalaman hidup. Baginya, perjalanan manusia dapat diibaratkan seperti lukisan yang tergantung di dinding: tampak diam, namun menyimpan riuh cerita yang tidak pernah selesai.
Robert menjelaskan bahwa filosofi tersebut lahir dari pengalaman pribadinya. Ia mengenang sepasang sepatu sederhana yang menemaninya dalam berbagai fase kehidupan, mulai dari ruang perjuangan, rapat-rapat penting, aksi demonstrasi, hingga masa-masa sulit yang ia hadapi. Sepatu itu, yang kini usang dan koyak, menurutnya merekam jejak perjalanan panjang yang tidak selalu mudah.
“Sepatu itu langkah. Langkah itu perjalanan hidup. Dan sepatu yang koyak itu tanda bahwa kita setia pada perjalanan itu,” ujarnya saat menceritakan ihwal gagasan di balik karyanya.
Robert mengatakan ia pernah mempelajari seni lukis abstrak, namun kemudian memilih kembali ke objek yang paling dekat dengan kesehariannya. Ia melukis sepatu bukan sebagai benda, melainkan sebagai saksi hidup. Ketika lukisan itu digantung di dinding, ia tampak tenang, namun di balik warna terdapat cerita panjang tentang jatuh bangun dan keberanian untuk terus melangkah.
Menurut Robert, lukisan sepatu bukan tentang keindahan, melainkan tentang perjalanan. Sepatu yang tampak diam pada kanvas itu pernah berjalan jauh dan menyimpan suara langkah yang membawa pengalaman hidup. Ia juga menyebut bahwa setiap manusia pada akhirnya memiliki saat untuk “menggantung sepatu” sebagai bentuk jeda, bukan tanda menyerah.
Lebih dari empat dekade berkarya, Robert menyatakan bahwa gagasan ini tetap relevan. Ia menilai kekuatan pesan tersebut justru terletak pada kesederhanaannya, yakni pada benda yang selalu dipakai sehari-hari dan perlahan membentuk makna melalui perjalanan hidup masing-masing.
Di akhir kisahnya, Robert menegaskan bahwa seluruh pengalaman yang ia jalani membawanya pada satu keyakinan yang terus ia pegang. “Di bawah langit ini adalah tempat kita belajar seumur hidup,” katanya.

